Menggunakan Ruby on Rails untuk Membangun Aplikasi Berbasis Microservices


Ruby on Rails

Dalam satu dekade terakhir, perdebatan antara arsitektur Monolith dan Microservices terus berkembang. Ruby on Rails (RoR), yang secara tradisional dikenal sebagai framework “monolith yang bahagia”, kini mulai bertransformasi. Banyak pengembang menyadari bahwa dengan pendekatan yang tepat, Rails adalah alat yang sangat kuat untuk membangun ekosistem microservices yang tangguh dan terukur.

Mengapa Memilih Ruby on Rails untuk Microservices?

Meskipun Rails sering dikritik karena penggunaan memori yang lebih tinggi dibanding Go atau Node.js, framework ini menawarkan kecepatan pengembangan (velocity) yang tidak tertandingi. Dalam dunia microservices, di mana Anda mungkin perlu membangun puluhan layanan kecil dengan cepat, produktivitas Rails menjadi aset yang sangat berharga.

Beberapa keunggulan utama menggunakan Rails untuk microservices meliputi:

  • Konvensi di atas Konfigurasi: Memudahkan standarisasi antar layanan yang berbeda.

  • Ekosistem Gem yang Kaya: Dukungan library untuk autentikasi, komunikasi API, dan manajemen database sudah sangat matang.

  • Rails API Mode: Versi ringan dari Rails yang membuang middleware yang tidak diperlukan untuk aplikasi berbasis JSON.

Strategi Memecah Monolith Menjadi Microservices

Langkah pertama dalam menggunakan Rails untuk microservices bukanlah menulis kode baru, melainkan mendefinisikan batas-batas layanan (Bounded Context).

Shutterstock

1. Gunakan Rails API-Only Mode

Sejak versi 5, Rails memperkenalkan mode API-only. Ini adalah pilihan terbaik untuk microservices karena menghilangkan komponen seperti Action View dan fungsionalitas browser lainnya yang tidak diperlukan oleh layanan backend.

Bash

rails new my_service --api

2. Komunikasi Antar Layanan

Dalam arsitektur microservices, layanan harus saling berkomunikasi secara efisien. Ada dua pendekatan utama:

  • Synchronous (HTTP/gRPC): Menggunakan REST API untuk komunikasi langsung. Ini sederhana namun bisa menyebabkan cascading failure jika satu layanan mati.

  • Asynchronous (Message Broker): Menggunakan RabbitMQ atau Apache Kafka. Ini adalah pendekatan yang lebih disarankan untuk menjaga decoupling antar layanan. Rails sangat cocok dipadukan dengan Sidekiq atau Karafka untuk memproses pesan dari antrean.

Tantangan Utama dan Solusinya

Membangun microservices dengan Rails bukan tanpa hambatan. Berikut adalah beberapa tantangan yang sering muncul:

A. Pengelolaan Database Salah satu aturan emas microservices adalah “satu layanan, satu database”. Jangan biarkan dua layanan Rails mengakses tabel yang sama secara langsung. Jika Layanan A membutuhkan data dari Layanan B, mintalah melalui API atau sinkronisasi data melalui event.

B. Autentikasi Terpusat Alih-alih melakukan autentikasi di setiap layanan, gunakan layanan identitas pusat atau API Gateway. Token JWT (JSON Web Token) sering digunakan dalam ekosistem Rails untuk memverifikasi identitas pengguna di berbagai layanan tanpa perlu mengecek database setiap saat.

C. Monitoring dan Tracing Dengan banyaknya layanan yang berjalan, melacak permintaan yang melewati berbagai servis menjadi sulit. Gunakan alat seperti OpenTelemetry atau AppSignal yang memiliki integrasi baik dengan Rails untuk memantau performa sistem secara keseluruhan.

Kapan Harus Menggunakan Rails untuk Microservices?

Ruby on Rails sangat ideal jika tim Anda sudah familiar dengan sintaks Ruby dan membutuhkan waktu peluncuran pasar (Time to Market) yang cepat. Namun, jika Anda memiliki layanan yang membutuhkan pemrosesan data intensif secara real-time dengan ribuan request per detik dalam satu instance kecil, Anda mungkin perlu mengombinasikan Rails dengan bahasa yang lebih hemat sumber daya seperti Go untuk layanan spesifik tersebut.

Kesimpulan

Ruby on Rails tetap menjadi pilihan relevan untuk membangun aplikasi berbasis microservices di tahun 2024 dan seterusnya. Dengan memanfaatkan Rails API mode, komunikasi asinkron, dan prinsip desain domain-driven, Anda dapat membangun sistem yang tidak hanya modular tetapi juga mudah dipelihara dalam jangka panjang. Kunci kesuksesannya bukan terletak pada framework-nya saja, melainkan pada seberapa baik Anda mendefinisikan batasan antar layanan tersebut.

Baca juga : Memahami Kemampuan Ruby on Rails dalam Mengelola Data Besar